You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Iran membalas setelah serangan AS disebut menewaskan empat orang di sebuah pesta pernikahan – Apa yang diketahui sejauh ini?
- Penulis, Joe Coughlan
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 4 menit
Pasukan Amerika Serikat melanjutkan serangan terhadap Iran pada Selasa, menurut Komando Pusat AS (Centcom), yang kemudian memicu serangan balasan berupa rudal dan drone ke sejumlah target AS, menurut kantor-kantor berita Iran.
Bulan Sabit Merah Iran mengatakan empat orang, termasuk seorang anak kecil, tewas dan lebih dari 50 lainnya terluka setelah serpihan proyektil dari serangan rudal AS menghantam sebuah rumah yang sedang menjadi lokasi pesta pernikahan di Sirik, wilayah selatan Iran.
Iran kemudian melancarkan serangan balasan setelah muncul laporan ledakan di sebuah pangkalan militer AS di Erbil, Irak, serta serangan rudal terpisah yang menargetkan pangkalan AS di Yordania.
Centcom menyatakan serangan AS tersebut dilakukan sebagai respons atas "upaya-upaya serangan terbaru" yang dilakukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan Amerika Serikat akan menyesali serangan tersebut.
Menurut kantor berita semi-resmi Tasnim, pada Rabu dini hari Iran meluncurkan rentetan rudal balistik ke pangkalan Marinir AS di Aqaba, Yordania, sebagai balasan atas serangan di Sirik.
Angkatan Bersenjata Yordania mengatakan berhasil mencegat 10 rudal balistik dan tidak ada korban tewas maupun luka-luka akibat serangan Iran tersebut, menurut laporan jaringan media yang berafiliasi dengan pemerintah, Al-Mamlaka.
Jaringan itu juga melaporkan bahwa pusat keamanan nasional Yordania sempat memperingatkan warga di Provinsi Aqaba dan Mafraq terkait kemungkinan jatuhnya puing-puing rudal. Peringatan tersebut kemudian dicabut.
Secara terpisah, militer Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya merespons serangan rudal Iran pada Rabu dini hari.
Sejumlah ledakan juga dilaporkan terjadi di Bahrain setelah serangan yang dilancarkan Iran, menurut media pemerintah Iran.
Saat mengumumkan serangan AS pada Selasa sore, Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi serangan balasan yang "jauh lebih keras dan lebih besar" apabila melakukan pembalasan.
Serangan terbaru ini terjadi setelah serangan AS pertama yang diketahui terhadap Iran sejak akhir Juli, yang berlangsung pada awal pekan ini ketika pasukan AS menyerang dua peluncur roket di Pulau Larak, di Selat Hormuz.
Teheran kemudian membalas dengan menembakkan rudal ke pangkalan udara di Yordania serta meluncurkan drone ke Uni Emirat Arab.
Centcom menyatakan pasukan AS mulai menyerang target-target IRGC pada pukul 12.00 waktu Timur AS, dan operasi tersebut selesai pada Rabu dini hari.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa seorang anak berusia empat tahun termasuk di antara empat korban tewas dalam serangan di Sirik.
Laporan lain menyebut proyektil juga menghantam wilayah Chabahar dan Konarak serta sebuah bandara di Jiroft. Ledakan juga dilaporkan terdengar di Pulau Qeshm dan Bandar Abbas.
Kapten Angkatan Laut AS Tim Hawkins, yang berbicara atas nama Centcom, mengatakan kepada BBC bahwa pihaknya mengetahui laporan media pemerintah Iran mengenai serangan di Sirik.
Ia menambahkan: "Militer AS tidak pernah menargetkan warga sipil, berbeda dengan IRGC."
Trump mengatakan serangan "besar dan kuat" yang dilancarkan pada Selasa itu merupakan respons terhadap serangan awal Iran terhadap pangkalan militer AS di Yordania. Ia juga menuduh Iran telah "gagal" dalam upayanya memasang ranjau laut di Selat Hormuz.
Presiden AS itu turut memperingatkan bahwa serangan dalam skala yang jauh lebih besar "sudah disiapkan" jika ketegangan terus meningkat.
Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Iran kemudian membalas dengan menyerang Israel, pangkalan-pangkalan militer AS, serta negara-negara sekutu Washington di kawasan Teluk.
Konflik itu juga secara efektif menyebabkan Selat Hormuz ditutup bagi lalu lintas pelayaran.
Sebuah kesepakatan AS-Iran yang dikenal sebagai Memorandum of Understanding untuk memperpanjang gencatan senjata antara kedua negara ditandatangani pada Juni 2026.
Namun, kesepakatan tersebut kini telah berakhir, yang memicu kembali pecahnya permusuhan.
Baik AS maupun Iran juga terlibat aksi saling menyerang terhadap pelayaran.
Teheran menargetkan kapal-kapal yang, menurutnya, berupaya melintasi Selat Hormuz tanpa izin, sementara Washington memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Washington juga mengumumkan kampanye sanksi baru pada 24 Agustus yang bertujuan semakin mengisolasi Teheran serta memperluas sanksi sekunder terhadap negara-negara dan pihak-pihak yang menjadi sekutunya.
Para pejabat Iran dan media pemerintah sebagian besar meremehkan langkah tersebut.
Mereka menggambarkannya sebagai kelanjutan dari kebijakan tekanan ekonomi AS yang sudah berlangsung sebelumnya, yang menurut mereka diterapkan setelah kegagalan militer Washington dalam konflik terbaru.
Namun, pada Selasa, Presiden Iran Masoud Pezeshkian dikutip media pemerintah mengatakan bahwa jika Amerika Serikat kembali berkomitmen pada kesepakatan tersebut, Iran juga akan memberikan respons yang setara dengan menghormati perjanjian itu.