Ratusan santri dan siswa di Sidoarjo diduga keracunan MBG – 'Pihak penanggung jawab harus diproses hukum'

Sejumlah santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam yang diduga mengalami keracunan makanan mendapatkan perawatan di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (02/09) dini hari.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Umarul Faruq

Keterangan gambar, Sejumlah santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam yang diduga mengalami keracunan makanan mendapatkan perawatan di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (02/09) dini hari.
    • Penulis, Silvano Hajid
    • Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
    • Penulis, Asvin Ellyana
    • Peranan, Jurnalis di Sidoarjo, Jawa Timur
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 6 menit

Ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo diduga keracunan setelah menyantap menu MBG (Makan Bergizi Gratis), Selasa (01/09). Sejumlah sekolah di sana juga melaporkan anak didiknya juga mengalami gejala keracunan serupa.

Otoritas setempat menyebut menu MBG itu berasal dari satu SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) yang sama.

Puluhan anak terus berdatangan memadati Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD), Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Notopuro, Sidoarjo, hingga Rabu (02/09) siang.

Beberapa anak harus memakai kursi roda karena tidak sanggup berdiri, sebagian baru diturunkan dari ambulans, terbaring lemas di atas ranjang.

Mereka merupakan pasien yang baru tiba di RSUD Notopuro.

Sebelumnya, para santri dan siswa dilarikan ke rumah sakit itu akibat dugaan keracunan MBG sejak Selasa (01/09) malam. Sebagian, menurut laporan media setempat sudah dipulangkan.

Namun, jelang siang, ruang IGD kembali sesak, ketika puluhan anak dengan keluhan yang sama berdatangan, hingga pihak rumah sakit harus menambah ranjang di ruang IGD, kata jurnalis di Sidoarjo, Asvin Ellyana, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Beberapa anak juga terlihat harus berbaring di atas tandu, karena semua ranjang di IGD itu telah terisi penuh, tambahnya.

Puluhan ambulans terus berdatangan di Ponpes Manbaul Hikam, Sidoarjo, Jawa Timur, pada Selasa (01/09) malam.

Sumber gambar, Kompas.com/Izzatun Najibah

Keterangan gambar, Kondisi Ponpes Manbaul Hikam Sidoarjo usai ratusan santri diduga keracunan MBG, Selasa (01/09) malam.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Pada Selasa (01/09) malam, puluhan ambulans terlihat keluar-masuk lingkungan pesantren, santri yang biasa mengaji pada malam itu harus dievakuasi satu demi satu setelah memperlihatkan gejala keracunan makanan, para santri itu terlihat terbaring lemas di dalam ambulans.

Di rumah sakit, sejumlah santri harus dipapah sambil membawa infus, puluhan orang tua santri menunggu cemas akan kondisi kesehatan anak mereka.

Menu MBG yang diduga meracuni ratusan santri itu pada awalnya tiba di pesantren sekitar pukul 10.00 WIB.

Sekitar 1.010 porsi kemudian dibagikan kepada para santri dan siswa Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah Manbaul Hikam.

Dari keterangan pihak pesantren, makanan itu tidak dimasak oleh dapur pesantren, melainkan dikirim dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Kalitengah, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.

Insiden keracunan massal baru terjadi jelang sore hingga malam, para santri lalu dilarikan ke sejumlah rumah sakit.

Puluhan anak dilarikan ke rumah sakit akibat dugaan keracunan MBG di Sidoarjo pada Rabu (02/09) siang.

Sumber gambar, Asvin Ellyana

Keterangan gambar, Suasana ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD), Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Notopuro, Sidoarjo, pada Rabu (02/09) siang.

Korban dugaan keracunan MBG tak hanya dari pesantren

Angka korban keracunan bergerak naik, dari yang awalnya puluhan kini mencapai ratusan, berdasarkan pendataan Dinas Kesehatan Kabupaten sidoarjo.

Pada Selasa (01/09) malam, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr Lakhsmie Herawati Yuwantina, mengatakan 293 santri tersebut mendapat perawatan di delapan rumah sakit.

"293 santri dirawat di delapan rumah sakit. Delapan santri dilaporkan masih mengalami kondisi atau gejala berat dan membutuhkan perawatan lebih lanjut," tambah Lakhsmie kepada jurnalis di Sidoarjo, Asvin Ellyana.

Namun, hingga Selasa (02/09), korban yang diduga keracunan MBG itu tidak hanya berasal dari pesantren.

Suasana ruang IGD RSUD Notopuro di Sidoarjo pada Rabu (02/09) siang.

Sumber gambar, Asvin Ellyana

Keterangan gambar, Pihak RSUD Notopuro harus menambah ranjang di ruang IGD pada Rabu (02/09) siang, untuk menampung pasien yang diduga keracunan setelah menyantap MBG.

Baca juga:

SPPG Kalitengah menyediakan menu MBG untuk 19 lembaga pendidikan lainnya, menurut Wakil Gubernur Jawa Timur yang juga Ketua Satgas MBG Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak.

"Memang juga ada data yang menunjukkan selain dari pondok pesantren Manbaul Hikam, ada juga dari sekolah-sekolah lain itu juga mengalami keluhan. Jadi kesamaannya adalah konsumsi dari SPPG yang sama, SPPG Kalitengah, Tanggulangin," tambah Emil, seperti yang dikutip di laman Kompas.

SPPG Kalitengah diketahui melayani kebutuhan MBG dengan total sekitar 2.800 porsi per hari.

Setidaknya, terdapat lebih dari 500 santri dan siswa yang mengalami keluhan kesehatan.

"Per pagi ini (02/09) tercatat ada 512 pasien yang terlapor dilarikan ke rumah sakit, Pasien tidak hanya berasal dari Ponpes Manbaul Hikam," jelas Emil.

Apa isi menu MBG yang diduga meracuni ratusan santri dan siswa?

Makanan yang disantap para santri dan siswa itu terdiri dari lima komponen; nasi putih, telur orak-arik, tumis buncis jagung muda, tempe bumbu bali dan apel.

Menurut kesaksian sejumlah santri, sayur yang disajikan terasa aneh, cenderung masam. Namun, kesaksian itu belum dapat dijadikan bukti bahwa sayuran tersebut merupakan penyebab ratusan anak keracunan.

Setidaknya, usai menyantap makanan itu, para siswa dan santri mulai mengeluhkan sakit kepala, mual hingga lemas pada Selasa malam, selepas waktu Maghrib.

Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo masih melakukan investigasi terkait sampel makanan yang diamankan untuk pemeriksaan di laboratorium.

Selain makanan, muntahan korban juga menjadi bagian dari bahan pemeriksaan untuk membantu menemukan penyebab keracunan.

Bupati Sidoarjo, Subandi, bahkan menyatakan akan memeriksa perizinan SPPG Kalitengah.

"Segera kita cek ke sana, ya, dengan semuanya dinas pengampu, ya, termasuk perizinan, termasuk Dinkes dan lain-lain," tegas Subandi.

Puluhan anak memenuhi ruang IGD RSUD Notopuro, Sidoarjo pada Rabu (02/09) siang.

Sumber gambar, Asvin Ellyana

Keterangan gambar, Tenaga kesehatan terpantau baru mengantarkan pasien yang diduga keracunan MBG pada Rabu (02/09).

Pemeriksaan tersebut, menurut Subandi, diperlukan untuk mengetahui persoalan yang terjadi di dapur penyedia makanan MBG.

Ia juga membuka kemungkinan penutupan apabila ditemukan persoalan serius dalam perizinannya.

Wakil Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Jawa Timur, Teguh Bayu Wibowo, mengatakan keputusan penghentian sementara telah dikeluarkan BGN.

Penghentian dilakukan sambil menunggu proses evaluasi dan hasil pemeriksaan laboratorium.

"Sementara ini karena memang sementara disuspen, dari BGN sudah surat turun di-suspend sementara," kata Teguh, seperti yang dikutip di laman Detik.

BGN akan melakukan evaluasi dan pemeriksaan laboratorium. SPPG masih akan di-suspend dalam kurun waktu yang belum ditentukan.

"Sampai hasil evaluasi ya, evaluasi dan hasil lab keluar. Jadi sementara kami sedang laporan ke pusat, pusat akan menimbang apakah di-suspendnya, suspend sementara atau suspend permanen," jelasnya.

Sejumlah pihak mendesak pemerintah menghentikan program MBG.

Sumber gambar, AFP/ VIA GETTY IMAGES/ BAY ISMOYO

Keterangan gambar, Aksi protes program MBG pada 18 Juni 2026.

Meski demikian, kasus dugaan keracunan MBG di Sidoarjo ini merupakan kegagalan negara melindungi hak anak, sebut Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

YLBHI melalu siaran pers-nya menilai, dugaan keracunan MBG tidak boleh diperlakukan sebagai persoalan teknis. Lebih dari itu, negara wajib membuka penyelidikan secara transparan kepada publik, sebagai bentuk pertanggungjawaban publik.

YLBHI mendesak agar pihak yang bertanggung jawab harus diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku, apabila ada temuan kelalaian, pelanggaran standar keamanan pangan, hingga kegagalan pengawasan.

Bagaimana kondisi para korban?

Para santri dan siswa dirawat di depan rumah sakit di Sidoarjo, RSUD Notopuro Sidoarjo menjadi fasilitas kesehatan yang menampung pasien terbanyak.

Sebagian memang telah dipulangkan karena kondisinya sudah membaik dan bisa rawat jalan, menurut laporan otoritas setempat, tetapi hingga Rabu (02/09) siang, Puluhan anak dilarikan ke IGD RSUD Notopuro.

Mereka mengalami gejala keracunan yang sama, setelah menyantap menu MBG pada Selasa (01/09) siang.

Puluhan anak itu memenuhi ruang IGD, sebagian harus diantar menggunakan kursi roda karena tidak kuat berjalan.

Para pasien nampak terkulai lemas dengan tatapan kosong di ruang IGD.

Sebagian masih terbaring, sebagian lagi sudah bisa duduk di atas ranjang karena sudah mendapat penanganan dari tenaga medis rumah sakit itu, seperti yang dilaporkan oleh jurnalis di Sidoarjo, Asvin Ellyana di lokasi.

Humas RSUD Notopuro, Rizky Maulana, menyebut, pada Rabu (02/09) siang, setidaknya 30 pasien dilarikan ke rumah sakit itu dan langsung mendapatkan penanganan medis.

Sementara, masih ada 11 pasien yang dirawat sejak Selasa (01/09) malam terkait dugaan keracunan MBG.

"Pasien-pasien itu yang rawat inap dan baru datang Rabu siang ini berasal dari ponpes yang sama," jelas Rizky.

Meski demikian, menurut pihak rumah sakit, kebanyakan anak yang dirawat mengalami dehidrasi.

"Sehingga kami lakukan rehidrasi, supaya kondisi mereka tidak drop," kata Rizky kepada jurnalis di Sidoarjo, Asvin Ellyana.

Rizky juga menambahkan para pasien kebanyakan mengalami mual, muntah hingga diare.

Salah satu orang tua korban, Reni, mengaku anaknya mengalami gejala mual dan sakit kepala pada Rabu pagi (02/09).

Dia membawa anaknya ke rumah sakit pada pukul 10.00 WIB. "Anak saya tadi malam masih membantu teman-temannya di ponpes, tidak mengalami gejala apa-apa, tetapi paginya, dia merasa perutnya tidak enak," ungkap Reni.

Menurut pengakuan Reni, anaknya tidak memakan sayur yang dicurigai menjadi penyebab dugaan keracunan massal ini.

"Dia hanya makan lauknya," jelas Reni.

Setelah ditangani di IGD rumah sakit, sang anak sudah bisa rawat jalan. "Diberi obat oleh dokter dan bilang kalau ada keluhan lagi, tolong kembali ke rumah sakit," tutup Reni.

Artikel ini akan diperbarui secara berkala.