Anda sedang melihat versi teks saja dari situs web ini yang menggunakan lebih sedikit data. Lihat versi utama situs web yang menyertakan semua gambar dan video.
Lula kembali jadi presiden Brasil, kampanye digital di WhatsApp jadi kunci sukses
- Penulis, Julia Braun
- Penulis, Rute Pina
- Penulis, Luiz Fernando Toledo
- Peranan, BBC News Brasil
- Melaporkan dari, London & São Paulo
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 5 menit
Sebuah kanal WhatsApp yang dibuat untuk mendukung kampanye pemenangan sang petahana, Luiz Inácio Lula da Silva, menjadi salah satu faktor kesuksesan paling mengejutkan dalam politik Brasil.
Lula sebelumnya tertinggal dari penantangnya yang berhaluan kanan, Flávio Bolsonaro. Namun, Lula berhasil membalikkan keadaan hanya dalam waktu tiga pekan.
Ketika banyak pihak meragukan kemampuannya mengejar ketertinggalan, muncul sebuah kanal WhatsApp bernama Laskar Lula (Lula's Army). Dalam waktu singkat, kanal tersebut berkembang pesat hingga memiliki 10,8 juta pengikut.
Operasi kampanye digital ini dipimpin seorang anggota Kongres, André Janones. Ia menggerakkan para pendukung Lula untuk membagikan video, menyebarluaskan tagar, dan mengajak pemilih baru.
Pertumbuhan pesat kanal tersebut sontak menjadi sorotan.
Selama bertahun-tahun, kelompok konservatif yang bersekutu dengan mantan Presiden Jair Bolsonaro dianggap mendominasi mobilisasi politik di dunia maya, khususnya melalui platform seperti WhatsApp dan Telegram.
Kemunculan Laskar Lula meyakinkan banyak pendukung bahwa kelompok kiri Brasil akhirnya menemukan cara untuk bersaing di arena digital.
Perubahan ini penting karena media sosial telah memainkan peran sentral dalam politik Brasil sejak kemenangan Jair Bolsonaro pada pemilihan presiden 2018. Saat itu, jaringan WhatsApp menjadi salah satu ciri utama kampanye politik di negara tersebut.
Pesan-pesan yang disebarkan Laskar Lula kerap dilengkapi dengan templat siap pakai agar para pengikut mudah membagikannya kepada teman dan keluarga. Setiap pesan berisi tugas tertentu yang bertujuan meningkatkan visibilitas Lula di media sosial.
Janones sering memberi instruksi kepada para pendukungnya, yang ia sebut sebagai "pasukan", untuk membuat video kampanye terbaru viral atau mendorong sebuah tagar agar ramai diperbincangkan.
"Teman-teman, ini mendesak!", "Jangan tidur dulu!", "Tidak boleh makan sebelum misi selesai!", dan "Saya masih punya satu tugas lagi sebelum kalian dibubarkan!" menjadi beberapa instruksi yang ia sampaikan.
Pada malam menjelang pemilihan, Janones juga menggelar siaran langsung selama 24 jam yang dijuluki "siaran langsung pembalik keadaan". Acara itu berlangsung ketika hasil jajak pendapat masih menunjukkan Bolsonaro berpeluang menang.
Strategi tersebut terbukti berhasil, meski sejumlah anggota Partai Pekerja (Workers' Party) khawatir gaya Janones di media sosial yang kerap konfrontatif justru dapat merusak citra Lula yang lebih moderat, sebagaimana ingin mereka tampilkan kepada publik.
Dalam pidato kemenangannya, Lula menyebut Janones sebagai "Jenderal kita" dan berterima kasih kepadanya karena telah "membangkitkan semangat pasukan kita setiap hari".
Peran media sosial
Namun, mengukur dampak mobilisasi politik di dunia maya terhadap hasil pemilu bukanlah perkara mudah.
Meski para pendukung Lula meyakini Laskar Lula turut mendorong kebangkitan sang presiden, para pakar politik mengingatkan bahwa mustahil memastikan berapa banyak suara pemilih—jika memang ada—yang secara langsung dipengaruhi oleh operasi kampanye melalui WhatsApp tersebut.
Pakar politik Denilde Holzhacker menilai perubahan strategi kampanye menjadi faktor penting di balik kebangkitan Lula.
Menurut dia, kandidat dari Partai Pekerja itu tidak hanya mengandalkan interaksi di dunia maya, tetapi juga berhasil menghubungkan kampanye digital dengan mobilisasi akar rumput secara langsung.
Holzhacker mengatakan, tim kampanye Lula meningkatkan aktivitas di tingkat lokal sekaligus menyesuaikan pesan-pesan politiknya.
Mereka mengaitkan kemungkinan kemenangan Bolsonaro dengan kekhawatiran akan perubahan program bantuan sosial dan hilangnya hak-hak masyarakat.
"Lula patut diapresiasi karena menyadari kelemahannya sendiri dan mengubah pendekatannya secara menyeluruh," ujarnya.
"Sementara itu, Janones berhasil melakukan sesuatu yang sebelumnya tampak mustahil bagi kelompok kiri Brasil: mendominasi media sosial."
Sebaliknya, Holzhacker menilai Flávio Bolsonaro terlalu percaya diri akan memenangi putaran kedua. Akibatnya, ia gagal menyampaikan pesan kampanyenya kepada para pendukung secara sama efektifnya.
Sosiolog sekaligus pakar politik Mayra Goulart, profesor di Universitas Federal Rio de Janeiro, juga mengingatkan agar kebangkitan Lula tidak semata-mata dikaitkan dengan media sosial.
"Ini merupakan perpaduan antara media sosial dan mobilisasi langsung di lapangan," ujarnya.
"Interaksi di dunia nyata memungkinkan mobilisasi yang dapat mengurangi angka golput dan meyakinkan pemilih yang belum menentukan pilihan."
Menurut Goulart, pendukung Lula berhasil mengubah antusiasme di dunia maya menjadi keterlibatan politik secara langsung.
"Mereka yang berkomitmen untuk memenangkan Lula berupaya mengumpulkan orang-orang dan meyakinkan mereka untuk datang ke tempat pemungutan suara," kata Goulart.
Ia menilai upaya tersebut tidak hanya membantu meningkatkan partisipasi pemilih, tetapi juga dapat menjadi modal berharga bagi pemerintahan Lula berikutnya.
"Saya percaya, upaya kolektif ini menjadi pengalaman belajar yang penting dan akan bermanfaat bagi pemerintahan yang masih menghadapi banyak tantangan ke depan. Upaya ini tidak hanya membantu mengurangi angka golput, tetapi juga berhasil mengubah pilihan sejumlah besar pemilih yang sebelumnya belum menentukan sikap."
Lula sendiri mengisyaratkan bahwa mobilisasi yang mendorong kebangkitannya dalam pemilu dapat memengaruhi cara ia menjalankan pemerintahan pada tahun-tahun mendatang.
Dalam pidato kemenangannya, Lula mengatakan bahwa pemilu tersebut memberinya banyak pelajaran. Ia pun berjanji akan mengubah cara Brasil dikelola.
"Kami akan memberi masyarakat ruang yang lebih besar untuk ikut menentukan keputusan, dan komunikasi digital akan memainkan peran yang jauh lebih besar dalam pemerintahan saya."