Anda sedang melihat versi teks saja dari situs web ini yang menggunakan lebih sedikit data. Lihat versi utama situs web yang menyertakan semua gambar dan video.
Karhutla di Bromo memakan korban dari petugas hingga atlet panjat tebing - Bagaimana prosedur dan komando pemadaman semestinya?
- Penulis, Riana A Ibrahim
- Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 11 menit
Kematian enam orang yang terlibat pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, pada Kamis (15/10) memicu evaluasi penerapan standar operasional prosedur pemadaman dan keselamatan. Keluarga korban juga menuntut transparansi terkait pengusutan peristiwa ini.
Sepanjang Agustus-Oktober 2026, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi berulang kali. Data dari Kementerian Kehutanan mendapati kebakaran melanda lebih dari 1.807 hektare kawasan Bromo.
Sejumlah titik yang terdampak, antara lain Bukit Teletubbies, Blok Penggol, Kawasan 360, Pos Jemplang, hingga Lembah Wetangan.
Sekitar dua pekan lalu pada bulan Oktober 2026 ini, areal Bukit Kembang Puncak Sari dan Pusung Lingker yang berada di Desa Ngadirejo, Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur terdampak kebakaran hingga jatuh korban.
Kondisi berturut-turut ini sempat membuat akses ke taman nasional, termasuk jalur pendakian sekitar dilakukan buka-tutup sementara.
Bagaimana kronologi kejadiannya?
Merujuk pada Sipongi+ milik Kementerian Kehutanan, kebakaran di sekitar Desa Ngadirejo, Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur terdeteksi titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi pada 13-15 Oktober 2026.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, menjelaskan kebakaran terjadi pukul 14.23 WIB pada Selasa (13/10), di ladang warga di sekitar Blok Pusung Dawa, yang berbatasan dengan kawasan TNBTS yang termasuk area Ngadirejo.
Sejumlah warga, bersama perangkat desa, termasuk Kepala Desa Ngadirejo, turut melakukan pemadaman pada hari tersebut. Namun, api merambat masuk ke kawasan TNBTS dan mencapai daerah medan terjal yang sulit dijangkau.
Pada Rabu (14/10), api berhasil dipadamkan, dan dipastikan tidak ada api serta asap lagi hingga malam hari.
Namun, pada Kamis (15/10), pukul 09.20, dari Posko Cemoro Lawang, terlihat asap tebal di lokasi hari sebelumnya.
Baca juga:
Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Probolinggo, Oemar Sjarief berkata api terlihat di lereng Pusung Lingker.
Empat petugas jaga segera menuju lokasi dan berusaha memadamkan. Akan tetapi, api sukar padam. Petugas meminta tambahan dukungan personel.
Sejumlah orang, termasuk petugas dari pemegang Perijinan Berusaha Sarana Wisata Alam (PSWA) PT. Mitra Indo Permai (MIP) dan Masyarakat Peduli Api (MPA) dikerahkan untuk melakukan penyekatan terhadap api yang menjalar masuk di kawasan Mentigen —bagian dari taman nasional.
Tim kemudian dibagi dua regu di sebelah kiri dan kanan api untuk melakukan penyekatan agar api tidak meluas.
Akibat tiupan angin kencang, api makin membesar. Sekitar pukul 13.30 WIB, enam petugas dan relawan terjebak di tengah api yang berkobar dan kepulan asap pekat. Lima personel lainnya berhasil menyelamatkan diri karena lokasinya berlawanan dengan arah api.
Mereka yang terjebak adalah:
- Sukaris (55 tahun) – Petugas Balai Besar TNBTS (Operator Layanan Operasional Seksi Pengelolaan TNBTS Wilayah I)
- Hendra Rony Wagiyanata (33 tahun) – Petugas TNBTS / Manggala Agni Pemula
- Wisnu Yuda Pratama (25 tahun) – Karyawan Hotel Artotel Bromo
- Sefriel Ardiansyah (19 tahun) – Karyawan Hotel Artotel Bromo
- Munawi (44 tahun) – Anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP)
- Suraji (40 tahun) – Petugas keamanan (securing) Hotel Artotel Bromo
Berselang satu jam, beberapa petugas berupaya menerobos api dan asap menuju ke lokasi dan menemukan enam orang korban.
Tiga orang, yakni Sukaris, Sefriel, dan Wisnu telah meninggal di tempat kejadian. Mereka dievakuasi pada pukul 17.00 WIB untuk menjalani autopsi di RSUD Tongas, Probolinggo.
Sedangkan, Hendra, Munawi, dan Suraji mengalami luka bakar dan segera dibawa ke rumah sakit untuk memperoleh perawatan intensif.
Namun pada pukul 18.59 WIB, Hendra yang mengalami luka bakar akhirnya meninggal ketika menjalani perawatan di RSUD Tongas, Probolinggo. Munawi dan Suraji dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya, tapi keduanya meninggal beberapa hari kemudian.
Tim Inafis Polres Probolinggo telah melakukan olah tempat kejadian perkara di hari yang sama ketika peristiwa terjadi.
'Kenapa anak saya kerja di hotel bisa ikut padamkan api?'
Lewat sepekan setelah kepergian Sefriel, karyawan Hotel Artotel Bromo, keluarga masih mempertanyakan keberadaan atlet panjat tebing daerah ini berada di lokasi kejadian.
Menurut ayahnya, Lutfi Zulkifli, Sefriel, yang merupakan lulusan SMK jurusan kelistrikan, baru bekerja enam bulan di hotel. Karena itu, ia heran saat mengetahui anak bungsunya ini ikut serta dalam pemadaman karhutla di dekat lokasi kerjanya.
"Jam setengah sebelas itu, kita masih bel-belan (telepon). Sempat kirim video juga ke ibunya," ujar Lutfi.
Sekitar pukul 14.00 WIB, ia memperoleh kabar dari pelatih panjat tebing Sefriel, Iwan Rosidi, bahwa ada kebakaran di dekat Artotel. Sefriel juga tidak bisa dihubungi. Begitu melihat nama anaknya dalam daftar korban, Lutfi segera berangkat ke tempat kejadian.
Namun, karena luka bakar yang cukup parah, Sefriel meninggal usai mendapatkan perawatan intensif. Lutfi berkata impian Sefriel adalah bisa kuliah lagi. Karena itu, anaknya memilih bekerja terlebih dahulu untuk menabung biaya kuliah dan menunggu beasiswa.
Di sela-sela sibuk bekerja, Sefriel tetap aktif berlatih panjat tebing. Olahraga yang ditekuni Sefriel sejak usia delapan tahun ini membawanya meraih berbagai medali. Pada 2027, ia akan mewakili Probolinggo di Pekan Olah Raga Provinsi Jawa Timur.
Sementara itu, perwakilan keluarga Sefriel, Aqniz Ambarwati, juga berharap ada penjelasan dari pengusutan perkara ini. Keluarga merasa janggal ketika mengetahui Sefriel ikut serta dalam proses pemadaman api yang dinilai tidak masuk dalam deskripsi pekerjaan di hotel.
"Yang pertama, kenapa adik kami Sefriel Ardiansyah ini, yang sedang bekerja di Artotel, bisa ada di kejadian kebakaran? Itu yang kami pertanyakan," ujar Aqniz.
Director of Marketing and Communication Artotel Group, Yulia Maria, bilang penugasan para stafnya untuk menyalurkan bantuan logistik bagi para petugas yang memadamkan api, sekaligus memantau pergerakan titik api agar tidak mendekati area properti hotel.
Lain halnya dengan korban lain, Munawi. Munawi, Anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP), yang berpulang pada 19 Oktober setelah berjuang pascakejadian, memang sehari-hari bekerja di kawasan Bromo dan aktif terlibat memadamkan karhutla.
Pada kebakaran Agustus lalu, Munawi juga turun ke lapangan. Bahkan, Munawi sempat bercerita tantangan dan kendala dalam pemadaman di Bromo berkaitan dengan medan yang terjal dan dan angin kering yang kencang.
Saat memadamkan api, Munawi dan rekan-rekannya bisa berangkat pagi hari dan baru kembali lewat pukul 22.00 WIB. Keesokan harinya, mereka bisa kembali bertugas jika api belum kunjung padam.
Bertahun-tahun menjalani tugas ini, Munawi berkata dukungan besar datang dari keluarganya.
"Keluarga selalu support. Saya terus berpesan agar berdoa di rumah untuk kami, agar tetap semangat dan selamat sampai di rumah," ucap Munawi.
Namun pada 15 Oktober, ada api yang tidak lagi bisa dijinakkan. Munawi menderita luka bakar parah dan tak lagi bisa bertahan.
'Tiap operasi harus punya komando yang jelas'
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, berkata peristiwa di Bromo menjadi momentum penting untuk mengevaluasi penerapan SOP keselamatan, sistem komando, dan kesiapan relawan dalam operasi karhutla.
"BNPB masih mempelajari laporan dan kronologi kejadian, sehingga kami tidak ingin menyimpulkan efektivitas penerapan SOP maupun kelengkapan APD (Alat Pelindung Diri) sebelum evaluasi selesai," ujarnya.
"Kami perlu tegaskan bahwa setiap operasi harus memiliki komando yang jelas, supervisi BPBD, petugas keselamatan, pengarahan sebelum dan sesudah operasi, serta relawan yang memiliki keterampilan dan perlengkapan pelindung yang memadai."
Ia menambahkan APD bukan sekadar formalitas. Helm, kacamata pelindung, respirator yang sesuai, sarung tangan tahan panas, dan sepatu lapangan harus digunakan dengan benar.
"Pada saat yang sama, APD tidak dapat menggantikan penilaian risiko, pemantauan perubahan angin dan perilaku api, serta keputusan untuk menarik personel ketika situasi membahayakan," imbuh Berton.
Ia pun berkata pihaknya akan mengevaluasi dan memperkuat pengaturan akses ke zona berbahaya berdasarkan tingkat risiko, kompetensi personel, dan kelengkapan perlindungan keselamatan.
Prinsipnya, tidak semua relawan harus masuk ke zona api aktif. Relawan dapat berperan dalam dukungan logistik, penyediaan air, pemantauan, dan tugas lain sesuai kemampuan serta arahan komando.
Untuk pemadaman di zona berisiko tinggi, personel harus memiliki kompetensi, APD, supervisi, dan perlengkapan keselamatan yang sesuai. Sistem komando juga harus memiliki kewenangan jelas untuk membatasi akses atau menarik personel ketika kondisi angin dan perilaku api berubah membahayakan.
"Tujuan evaluasi ini bukan membatasi semangat relawan, melainkan memastikan setiap relawan bertugas sesuai kapasitasnya dan tidak ditempatkan pada risiko yang tidak dapat dikendalikan."
Karhutla di Bromo bukan pertama kali terjadi. Pada 2023, Bromo pernah terbakar saat ada pengunjung yang menggunakan flare untuk sesi foto pranikah di Bukit Teletubbies dan menjalar ke sabana Bromo. Sekitar 504 hektare lahan terdampak.
Musim kemarau memang merupakan momen genting mengingat banyak vegetasi yang mengering karena kemarau dan angin yang berembus kencang sehingga mengakibatkan api cepat menyebar saat kadung terbakar.
Pada Agustus 2026 lalu, kebakaran menghanguskan sekitar 520 hektare lahan Bromo. Kejadiannya berlangsung sejak awal hingga pertengahan bulan. Kawasan pun sempat ditutup dan baru dibuka pada 20 Agustus.
Pada September 2026, kebakaran kembali terjadi di Sabana Penggol dan sekitarnya. Seluruh pintu masuk, yakni Cemorolawang, Wonokitri, dan Jemplang, ditutup sejak 12 September dan baru dibuka kembali pada 19 September.
Menurut data BNPB, kebakaran di area konservasi, khususnya pegunungan, kerap terjadi akibat faktor alam dan manusia.
Adapun faktor alam berkaitan dengan iklim berupa suhu tinggi, arah tiupan angin, dan curah hujan rendah. Selain itu, erupsi gunung berapi juga berpengaruh.
Dari faktor manusia, kebakaran dapat terjadi akibat puntung rokok yang dibuang sembarangan, membuat api unggun, perilaku membakar sampah sembarangan, dan penggunaan api untuk pembukaan lahan.
Pada Agustus lalu, Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Nugraha menjelaskan: "Yang kami duga sampai saat ini ada kemungkinan faktor manusia. Bukan faktor alam, karena awal api itu ada di puncak tebing yang terdapat jalur tradisional."
Sementara terkait kejadian Oktober ini, ia berkata, tantangan dan kendala pemadaman yang terjadi, adalah lokasi jauh dari sumber air dan sulit dijangkau mesin penyemprot.
Karena itu, petugas dan warga memadamkan api secara manual menggunakan alat gebyok. Namun, angin yang kencang membuat api merambat masuk ke kawasan taman nasional hingga mencapai medan terjal yang sulit dijangkau.
Umumnya, kebakaran yang meluas ditangani lewat darat dan udara.
Untuk penanganan di darat sepanjang wilayah bisa dijangkau akan diturunkan mobil pemadam kebakaran, drone water spray, hingga personel gabungan dari berbagai unsur. Sedangkan, penanganan lewat udara dengan mengerahkan helikopter water bombing untuk menyiram sejumlah titik api.
Karhutla di areal gunung lainnya
Selain Bromo, sejumlah kawasan pegunungan yang juga berada dalam lahan taman nasional mengalami kebakaran yang masif pada tahun ini. Antara lain:
- Gunung Arjuno Welirang
Karhutla menimpa kawasan Gunung Arjuno-Welirang di area Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, Jawa Timur. Sekitar 260 hektare lahan telah hangus, tapi besar luasan ini masih diperhitungkan lagi.
Untuk mengatasi meluasnya kebakaran tersebut, BNPB akan melakukan percepatan penanganan dengan melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC).
Areal ini terbakar sejak 15 Oktober dan sudah padam karena guyuran hujan deras pada Minggu (25/10) siang. Wilayah yang terdampak kebakaran ini mencakup Kota Batu, Mojokerto, Pasuruan, dan Malang.
Hingga saat ini, pemantauan terhadap sisa bara yang ada di akar pohon masih dilakukan
- Gunung Sumbing
Karhutla melanda areal Gunung Sumbing di Desa Lamuk, Kalikajar, Wonosobo, Jawa Tengah pada 19 Oktober hingga 24 Oktober 2026.
Kepala BPBD Wonosobo, Sumeko Hendro Kustanto berkata pemadaman sulit dilakukan karena kondisi medan terjal, angin kencang, dan keterbatasan operasi pemadaman pada malam hari.
Adapun total luas lahan yang terbakar mencapai 974,3 hektare meliputi tiga kabupaten yaitu, Wonosobo, Temanggung, dan Magelang.
Dugaan pemicunya adalah faktor manusia yang kemudian luas karena faktor alam. Titik awal api terpantau berasal dari jalur Gajahmungkur, Wonosobo.
- Gunung Lawu
Di Jawa Tengah, karhutla juga terjadi di areal Gunung Lawu. Pemerintah Kabupaten Karanganyar bahkan menetapkan status tanggap darurat karhutla selama dua pekan sejak 15 Oktober 2026.
Menurut Kepala BPBD Karanganyar, Sugiharjo, luas wilayah terdampak hingga 875 hektare. Sejak 25 Oktober 2026, titik api disebut sudah tidak terlihat lagi.
Penanganan kebakaran di wilayah ini menggunakan water bombing dan penyekatan api untuk membatasi api melalui empat pos yaitu, Pos Induk Gondosuli, Pos Candi Cetho, Pos Cemoro Kandang, dan Pos Tambak.
- Gunung Ciremai
Di Jawa Barat, kawasan Gunung Ciremai juga terbakar. Pertama, peristiwa ini sempat terjadi pada Juli 2026. Kemudian, muncul lagi pada 21 Oktober 2026 dengan titik awal di Kuningan, Jawa Barat yang hampir meluas hingga Majalengka.
Terdeteksi juga titik api di bawah kaki Gunung Dulang dan di sebelah selatan pos pemantauan Karang Dinding. Luasan wilayah terdampak sekitar 60 hektare.
Pemadaman sempat terkendala karena keterbatasan kendaraan untuk memobilisasi petugas menuju lokasi penanganan. Namun per 24 Oktober 2026, pemadaman berhasil dilakukan dan sudah dalam tahap pendinginan.
Sebelum Gunung Ciremai, kawasan Gunung Gede Pangrango juga mengalami kebakaran pada 2026 ini.
Pada Agustus lalu, Gunung Soputan di Maluku juga terbakar.
Artikel ini dikerjakan juga oleh Muhammad Safwan dari Probolinggo, Jawa Timur