Drama penyanderaan berakhir, empat WNI yang disekap bajak laut Somalia telah bebas – 'Hampir mati tadi'

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Muh. Aidil
- Peranan, Jurnalis di Makassar
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 5 menit
Suara Syamsuddin bergetar tak kuasa menahan haru saat pertama kali mendapat kabar dari anaknya, Ashari Samadikun, kapten kapal MT Honour 25, yang baru saja lolos dari maut.
Syamsuddin berulang kali mengucapkan 'Alhamdulillah' sebagai rasa syukur karena anaknya dan tiga WNI lainnya telah bebas dari penyekapan perompak Somalia selama lebih dari lima bulan.
Ashari dan tiga rekannya bisa bebas setelah aparat bersenjata Puntland—wilayah semi-otonomi di Somalia—melakukan penyerbuan terhadap para perompak yang membajak kapal MT Honour 25 pada Selasa pagi, 29 September 2026.
Syamsuddin bilang setelah aparat membebaskan para sandera, Ashari langsung menghubunginya.
"Anak saya [Ashari] sudah ambil dia punya hp. Dia sampaikan apa yang ada. Tapi dalam kondisi yang masih kacau," kata Syamsuddin.

Sumber gambar, Muh. Aidil
Dalam keterangan kepada BBC Somali, Wakil Menteri Informasi Puntland, Bile Qabowsade, mengatakan bahwa sebanyak lima orang sandera dibunuh oleh perompak sebelum aparat menaiki kapal tanker MT Honour 25.
Qabowsade mengatakan bahwa korban tewas terdiri atas tiga warga negara Pakistan, satu warga negara India, dan satu warga negara Myanmar. Sejumlah awak kapal juga mengalami luka-luka.
Menurut Syamsuddin, berdasarkan keterangan Ashari kepadanya, salah satu korban luka adalah seorang WNI bernama Fiki Mutakin.
Baca juga:
Kapal tanker tersebut, yang mengangkut sekitar 18.500 barel minyak menuju ibu kota Somalia, Mogadishu, dibajak pada April lalu di lepas pantai Somalia.

Sumber gambar, Istimewa
Kapal itu diawaki 17 pelaut. Empat di antara mereka merupakan WNI, yakni
- Ashari Samadikun selaku kapten kapal asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan;
- Adi Faizal selaku 2nd Officer asal Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan;
- Wahudinanto selaku Chief Officer asal Pemalang, Jawa Tengah;
- Fiki Mutakin asal Bogor, Jawa Barat.
Pejabat setempat mengatakan bahwa 16 terduga perompak telah ditangkap, sementara pelaku lainnya berhasil melarikan diri dan masih dalam pengejaran.
Kapal tanker yang dibajak itu berlabuh di dekat pantai Somalia, di antara Kota Xaafun dan Bander Beyla.
Bagaimana kondisi para ABK?
Para ABK MT Honour 25 yang telah berhasil dibebaskan dari kawanan perompak Somalia akan dibawa langsung ke wilayah Bosaso—berdasarkan keterangan salah satu ABK bernama Ashari kepada ayahnya di Sulawesi Selatan, Syamsuddin.
Namun, kondisi kru kapal yang mengalami luka tembak pada saat itu tidak memungkinkan untuk bepergian jauh.
Menurut Ashari kepada ayahnya, jarak dari lokasi penyergapan menuju wilayah Bosaso memerlukan waktu perjalanan sekitar lima hari menggunakan jalur laut.
Para kru kapal juga tak dapat dievakuasi menggunakan helikopter karena kondisi keamanan yang tidak stabil.
Karena itu, para ABK dibawa ke rumah sakit terdekat yang terletak di wilayah Gorawe.
Di sana, kata Syamsuddin, lima ABK yang mengalami luka-luka menjalani perawatan medis.
Sebanyak tujuh ABK lainnya dibawa menuju ke wilayah Bosaso dengan pengawalan ketat dari aparat.
Dari ketujuh orang tersebut, tiga orang di antara mereka merupakan WNI, yaitu Ashari Samadikun, Wahudinanto, dan Adi Faizal.
Empat orang lainnya dari Pakistan.
"Para awak kapal disuruh tinggal dulu di hotel untuk menunggu berita selanjutnya," terang Syamsuddin.
Saat ini, kata Syamsuddin, para awak kapal menunggu penyelesaian dari pihak perusahaan terkait lima jenazah dan lima orang lain yang terluka.

Sumber gambar, Istimewa
Syamsuddin bilang belum ada ketetapan terkait kapan keempat WNI tersebut akan dipulangkan ke Indonesia.
"Kru yang dari Indonesia ini mau diberangkatkan pulang kalau sudah sehat-sehat. Anak saya [Ashari] belum mau pulang kalau belum bersama Fiki," kata dia.
"Yang jelas anak saya [Ashari] sudah bebas, sudah tenang. Tinggal menunggu situasi aman kembali dan penyelesaian perusahaan."
Bagaimana operasi pembebasan berlangsung?
Operasi pembebasan terjadi pada Selasa pagi, 29 September 2026.
Dalam upaya itu, aparat dan kawanan bajak laut sempat baku tembak. Tetapi, pada saat yang bersamaan, sebanyak lima ABK ditembak oleh bajak laut.
Kala itu, Ashari Samadikun bersama kru yang selamat tak kuasa menahan tangis saat mengabarkan kepada keluarganya terkait situasi mencekam yang terjadi di atas kapal.
"Hampir mati tadi juga. Tidak bisa bantu itu," kata Ashari kepada ayahnya, Syamsuddin, melalui panggilan video.
Syamsuddin mengatakan, para ABK yang disandera sangat ketakutan.
"Jadi di sana itu sudah kacau awak kapal, sudah pada menangis karena ada beberapa yang cedera dan ada beberapa yang meninggal. Tapi sudah dikuasai oleh militer," papar. Syamsuddin, berdasarkan keterangan Ashari.
"Ini ada beberapa perompak juga meninggal," sambung Syamsuddin.

Sumber gambar, Muh. Aidil
Syamsuddin menyayangkan jatuhnya sejumlah korban ABK di kapal tersebut.
Pejabat setempat mengatakan bahwa 16 terduga perompak telah ditangkap, sementara pelaku lainnya berhasil melarikan diri dan masih dalam pengejaran.
Wakil Menteri Informasi Puntland, Bile Qabowsade, menolak anggapan bahwa aparat Puntland membantu sejumlah perompak melarikan diri.
Sejauh ini, otoritas setempat belum membeberkan rincian tentang bagaimana lima ABK meninggal dunia.
Disandera sejak April 2026
Kapal MT Honour 25 dibajak oleh kawanan perompak bersenjata sejak 21 April lalu.
Di dalam kapal, para sandera sesekali diberi kesempatan untuk menghubungi keluarganya secara bergiliran menggunakan telepon kapal MT Honour 25.
Selama penyanderaan, kawanan perompak berupaya meminta tebusan kepada pihak perusahaan. Namun, tuntutan itu tidak mendapat titik terang.
Dalam perjalanannya, kondisi para sandera kian buruk. Banyak di antara mereka jatuh sakit.
Selain itu, persediaan makan dan minum di atas kapal menipis.
"Mereka hanya bertahan dengan kesabaran dan doa serta sisa beras yang harus diirit," kata Syamsuddin, ayah Ashari Samadikun—kapten kapal MT Honour 25.































